jump to navigation

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen Dan Niat Kunjungan Ulang Ke Warung Internet September 28, 2010

Posted by yudhaaduy in Uncategorized.
trackback

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen Dan Niat Kunjungan Ulang Ke Warung Internet

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Dunia sedang menuju era yang disebut dengan globalisasi. Globalisasi berasal dari kata”globe” berarti bulat bundar seperti bola atau apabila diartikan secara bebas berarti dunia tanpa batas antara satu negara dengan negara lain (Khoriyah 2001). Pada era ini perkembangan teknologi terutama informasi dan komunikasi akan sangat pesat. Selain itu, pada era yang juga disebut dengan era millenium tersebut akan berakibat pada kompetisi yang sangat sengit di antara negara-negara yang ada di dunia ini.

Dengan perkembangan yang semakin cepat tersebut, kebutuhan informasi dan komunikasi yang cepat pun menjadi sangat vital. Berbagai macam media untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi tersebut terus diciptakan dan dikembangkan seperti telepon, handphone maupun internet. Media informasi yang disebutkan terakhir ialah salah satu yang menjamur di kalangan masyarakat yang haus akan informasi. Oleh sebab itu, banyak yang memanfaatkan peluang bisnis tersebut dengan membangun dan mendirikan warung internet.

Bisnis warung internet (warnet) ialah bisnis jasa yang menuntut

layanan prima kepada konsumen. Di tengah masyarakat yang semakin peduli

akan kualitas, layanan prima menjadi salah satu kunci dalam keberhasilan bisnis. Apabila konsumen diberikan layanan yang baik maka konsumen akan puas dan apabila puas mereka akan menjadi konsumen yang loyal. Kotler (2000); Parasuraman (1990) menyatakan bahwa kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah ia membandingkan antara kinerja yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya.

Produk atau jasa yang bisa memuaskan adalah produk atau jasa yang dapat memberikan sesuatu yang dicari oleh konsumen sampai pada tingkat cukup. Dalam konteks teori perilaku konsumen, kepuasan lebih banyak didefinisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk atau jasa. Jika kinerja berada di bawah harapan, konsumen tidak puas. Jika kinerja melebihi harapan, konsumen amat puas atau senang. Kepuasan yang tinggi atau kesenangan cenderung akan menyebabkan konsumen berperilaku positif, terjadinya kelekatan emosional terhadap merek, dan juga preferensi rasional sehingga hasilnya adalah kesetiaan (loyalitas) konsumen yang tinggi (Palilati 2007).

Parasuraman (1990) memberikan lima dimensi analisis kualitas layanan yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance danempathy. Saat ini banyak bisnis jasa yang mulai memperhatikan kualitas layanan. Dengan adanya service quality ini dapat dipantau, apakah kualitas layanan yang diberikan telah sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen. Selain itu, dalam usaha menghadapi persaingan, perusahaan harus memiliki strategi

yang lebih baik dibanding pesaing yang ada. Untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa salah satu alat untuk mendukung strategi bersaing agar lebih baik adalah dengan memiliki kualitas layanan yang baik.

Niat kunjungan ulang merupakan perilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Niat kunjungan ulang juga dapat diartikan sebagai bagian dari tahapan loyalitas konsumen. Seperti yang diungkapkan oleh Oliver (1996) dalam Hurriyati (2005:129), bahwa loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk/jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku.

Sejak diterapkan standarisasi komunikasi internet tahun 1982 perkembangan internet makin pesat. Kita tidak harus memiliki komputer sendiri, jika ingin mengakses internet, karena sudah banyak berdiri persewaan internet, seperti internet kafe atau warung internet. Kebanyakan yang pengakses internet adalah pelajar dan mahasiswa (Hermawan, 2000). Bisnis jasa warung internet juga sangat marak di Lubuk Buaya, salah satu daerah di kota Padang di Provinsi Sumatera Barat. Konsumen dari warung internet tersebut adalah siswa, mahasiswa maupun masyarakat umum.

Karena inilah penulis tertarik untuk membahas penelitian dengan judul: ” Pengaruh Kualitas Layanan dan Kepuasan Konsumen terhadap Niat Kunjungan Ulang ke Warung Internet di Lubuk Buaya”

B.Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka masalah – masalah

yang dapat di identifikasi adalah :

1. Apakah Kualitas Layanan berpengaruh terhadap Niat Kunjungan ke

warung internet di Lubuk Buaya?

2. Apakah Kepuasan Konsumen berpengaruh terhadap Niat Kunjungan ke

warung internet di Lubuk Buaya?

3. Apakah Kualitas Layanan dan Kepuasan Konsumen berpengaruh terhadap

Niat Kunjungan ke warung internet di Lubuk Buaya?

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membatasi penelitian pada pengaruh kualitas layanan dan kepuasan konsumen terhadap niat kunjungan ulang ke warung internet di Lubuk Buaya berdasarkan data Bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2008

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut :

1. Sejauhmana pengaruh Kualitas Layanan terhadap Niat Kunjungan ke

warung internet di Lubuk Buaya?

2. Sejauhmana pengaruh Kepuasan Konsumen terhadap Niat Kunjungan ke

warung internet di Lubuk Buaya?

3. Sejauhmana pengaruh Kualitas Layanan dan Kepuasan Konsumen berpengaruh terhadap Niat Kunjungan ke warung internet di Lubuk Buaya?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian berdasarkan perumusan masalah

diatas adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh Kualitas layanan terhadap Niat Kunjungan

Ulang di Warung Internet di Lubuk Buaya

2. Untuk mengetahui pengaruh Kepuasan Konsumen terhadap Niat

Kunjungan Ulang ke warung internet di Lubuk Buaya

F. Manfaat Penelitian

Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh berbagai manfaat yang

diharapkan berguna bagi berbagai pihak

Manfaat bagi penulis:

- Sebagai masukan pengetahuan bagi penulis tentang kualitas layanan

komunikasi.

- Memperluas wawasan penulis dari penerapan ilmu yang telah diperoleh

dalam perkuliahan.

- Sebagai tugas akhir mata kuliah Metodologi Penelitian

Manfaat bagi perusahaan:

- Memberi masukan pada perusahaan dalam menyusun strategi bersaing

industri komunikasi.

- Sebagai acuan bagi perusahaan untuk mengembangkan kualitas layanan

jasa berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan.

Manfaat bagi akademisi :

- Memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan mengenai kualitas dan kinerja jasa komunikasi dalam menentukan tingkat kepuasan pelanggannya.

- Memberikan referensi yang berguna tentang pemenuhan kualitas layanan

jasa komunikasi

BAB II

KAJIAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

A.Kajian Teori

1. Pemasaran

Menurut Philip Kotler (2005), pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, pertukaran, hubungan timbal balik produk-produk yang bernilai dengan individu dan kelompok lain”.

pelaksanaan konsepsi, penentuan harga, promosi, dan pendistribusian barang, jasa dan ide untuk menciptakan pertukaran dengan kelompok yang dituju, dimana proses ini dapat memuaskan pelanggan dan tujuan perusahaan”.

Dari uraian defenisi tentang pemasaran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran itu mencakup usaha-usaha pemasaran yang dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan konsumen, menentukan produk yang tepat untuk diproduksi, mengkoordinasikan dengan fungsi-fungsi manajamen lainnya (fungsi keuangan, produksi, sumberdaya manusia, serta penelitian dan

pengembangan), mengembangkan penawaran melalui promosi dan distribusi. Semua ini perlu dilakukan perusahaan agar tercapai kepuasan konsumen yang merupakan salah satu cara tercapainya laba yang menjadi tujuan perusahaan.

Menurut Stanton (1985), jasa merupakan kegiatan yang dapat dilihat tapi tidak dapat dirasakan bentuknya yang mana jasa ini diberikan untuk memuaskan kebutuhan/ kegiatan konsumen dan dalam menjalankan usaha ini digunakan barang yang dapat diraba tapi barang ini tidak mengalami perpindahan permanen setelah interaksi dilakukan.

Sedangkan menurut Tjiptono (1997), jasa merupakan aktivitas/

manfaat/ kepuasan yang ditawarkan untuk dijual.

Selain itu, menurut kotler (1997 jilid II), jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun, produksinya dapat dikaitkan atau pada suatu produk fisik. Jasa merupakan tawaran perusahaan ke pasar biasanya mencakup beberapa jasa. Komponen jasa dapat merupakan bagian kecil atau bagian utama dari total penawaran. Maka, penawaran dibedakan menjadi 5, yaitu:

a. Barang berwujud murni

Penawaran hanya terdiri dari barang berwujud, tidak ada jasa yang

menyertai produk tersebut.

b. Barang berwujud yang disertai jasa

Pewaran terediri dari barang berwujud yang disertai atau beberapa jasa

untuk meningkatkan daya tarik konsumennya.

c. Campuran

Penawaran terdiri dari barang dan jas adengan proporsi yang sama.

d. Jasa utama yang disertai barang dan jasa tambahan

Penawaran terdiri dari satu jasa utama disertai jasa tambahan atau barang

pendukung.

e. Jasa murni

Penawaran hany aterdiri dari jasa.

2.1. Karakteristik Jasa

Setiap jasa yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kotler

(1997) membedakan karakteristik jasa menjadi 4 bagian, yaitu:

a.Intangible (Tidak Berwujud)

Suatu jasa mempunyai sifat tidak berwujud, tidak dapat dirasakan atau dinikmati sebelum dibeli konsumen. Artinya kualitas jasa tidak dapat dilihat secara fisik, tetapi kualitasnya dapat diperoleh melalui tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, simbol dan harga yang melekat pada jasa tersebut.

b.Inseparibility (Tidak dapat Dipisahkan)

Pada umumnya jasa yang diproduksi dapat dirasakan pada waktu bersamaan dan apabila dikehendaki oleh seseorang untuk diserahkan kepada pihak lainnya maka dia akan tetap menjadi bagian dari jasa tersebut, atau jika

seseorang melakukan jasa maka penyediaannya adalah bagian dari jasa tersebut. Ciri khusus dari pemasaran jasa adalah interaksi penyedia jasa dengan klien yang hadir saat jasa itu dilakukan.

c.Variability (Bervariasi)

Jasa senantiasa mengalami perubahan, tergantung pada siapa penyedia jasa,

penerima jasa, dan kondisi dimana jasa tersebut diberikan.

d.Perishability (Tidak Tahan Lama)

Daya tahan suatu jasa tergantung pada situasi yang diciptakan oleh berbagai faktor. Atau dengan kata lain seseorang penyedia jasa tersebut tidak bisa menawarkan pelayanan jasanya kepada pelanggan yang sedang tidak membutuhkan jasa tersebut, pada kondisi ini jasa dikatakan sudah lenyap atau tidak tahan lama.

2.2 Kualitas Jasa

2.2.1 Pengertian Kualitas Jasa

Semakin tinggi tingkat kualitas produk mengakibatkan semakin tingginya kepuasan pelanggan dan mendukung harga jasa yang lebih tinggi. Dimana menurut (Kotler, 1997), hal yang penting lainnya dalam memuaskan pelanggan adalah kualitas pelayanan. Terdapat hubungan yang erat antara kualitas dan pelayanan, kepuasan pelanggan dan profitabilitas perusahaan.

Sedangkan menurut American Society for Quality Control (Kotler, 1997)

kualitas jasa adalah keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk atau pelayanan yang

berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat. Ini merupakan pengertian jasa yang terpusat pada pelayanan. Kita dapat mengatakan bahwa seorang penjual telah memberikan kualitas bila produk atau layanan penjual memenuhi atau melebihi harapan pelanggan, dengan demikian perusahaan dapat dikatakan berkualitas bila perusahaan itu selalu memuaskan kebutuhan pelanggannnya.

Jadi, kualitas merupakan sesuatu yang harus dikerjakan oleh penyedia jasa dengan baik, dalam rangka meraih keunggulan bersaing, baik sebagai pemimpin pasar ataupun sebagai strategi untuk terus berekembang. Pelanggan akan mencari bukti dari kualitas jasa yang ditawarkan. Mereka akan menarik kesimpulan mengenai kualitas jasa baik itu dari tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, simbol dan harga yang mereka rasakan.

2.2.3 Mengelola Kualitas Jasa

Salah satu cara perusahaan jasa untuk dapat tetap ungul bersaing adalah dengan cara memberikan jasa yang berkualitas lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya secara konsisten. Pasuraman, Zeithaml dan Berry (1990) membentuk model kualitas jasa yang mengidentifikasi 5 kesenjangan yang kan mengakibatkan kegagalan penyampaian jasa, yaitu:

1. Kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen

Manajemen tidak selalu dapat memahami dengan tepat apa yang diharapkan

konsumen terhadap komponen pelayanan.

2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dengan spesifikasi kualitas jasa

Manajemen mungkin memahami secara tepat apa yang diharapkan pelanggan

tetapi tidak menetapkan suatu set standar kinerja spesifik

3. Kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa dengan penyampaian jasa

Para personil mungkin kuarang terlatih atau tidak mampu dan tidak mau

memenuhi standar, atau mereka dihadapkan pada standar yang berlawanan.

4. Kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal

Harapan konsumen dipengaruhi oleh pertnyataan yang dibuat oleh wakil-

wakil perusahaan

5. Kesenjangan antara jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan

Hal ini terjadi jika pelanggan mengukur kinerja perusahaan dengan cara berbeda dan memiliki persepsi yang keliru mengenai persepsi yang keliru mengenai kualitas jasa.

1. Reliability (reliabilitas), yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati.

2. Responsiveness (daya tanggap), yaitu respon atau kesigapan karyawan dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap, meliputi: kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan karyawan dalam menangani transaksi, dan penanganan keluhan pelanggan.

3. Assurance (Jaminan), yakni perilaku karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perysahaan bias menciptakan rasa aman bagi para pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan bias menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya. Jaminan juda berarti bahwa para karyawan selalu bersikap sopan dan menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani .

Dimensi kepastian/jaminan ini merupakan gabungan dari dimensi:

Kompetensi (Competence), artinya keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh para karyawan untuk melakukan pelayanan.

Kesopanan (Courtesy), yang meliputi keramahan,

perhatian, dan sikap para karyawan.

Kredibilitas (Credibily), meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan kepada perusahaan, seperti reputasi, prestasi, dan sebagainya.

4. Empathy (empati), yaitu perhatian individual yang diberikan perusahaan kepada pelanggan seperti kemudahan untuk menghubungi perusahaan, kemampuan karyawan untuk berkomunikasi dengan pelanggan, dan usaha perusahaan untuk memahami keinginan dan kebutuhan pelanggannya.

Dimensi ini merupakan penggabungan dari dimensi:

Akses, meliputi kemudahan untuk memanfaatkan jasa yang ditawarkan perusahaan.

Komunikasi, merupakan kemampuan melakukan komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada pelanggan atau memperoleh masukan dari pelanggan.

Pemahaman pada pelanggan, meliputi usaha perusahaan untuk mengetahui dan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan.

5. Tangibles (bukti fisik), meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan front office, tersedianya tempat parkir, kebersihan, kerapihan dan kenyamanan ruangan, kelengkapan peralatan komunikasi, dan penampilan karyawan.

3. Kepuasan Pelanggan

3.1 Pengertian kepuasan konsumen

Kemampuan perusahaan untuk dapat mengenali, memenuhi dan memuaskan kebutuhan pelanggan dengan baik, merupakan strategi untuk dapat unggul dari pesaing lain. Konsumen yang loyal akan lebih sulit untuk dipertahankan, tapi dapat dicapai bila perusahaan mampu berfokus pada kepuasan tinggi yang dirasakan oleh pelanggannya.

Adapun kepuasan konsumen menurut Kotler (2002 jilid 1) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/ kesannya terhadap kinerja berada di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Tapi, jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas dan senang.

Jika kinerja yang dirasakan di bawah harapan, pelanggan tersebut akan merasa dikecewakan, jika kinerja memenuhi harapan pelanggan, pelanggan akan merasa puas, sedangkan jika kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan merasa sangat puas. Dan kepuasan ini tentu akan dapat dirasakan setelah pelanggan yang bersangkutan mengkonsumsi produk tersebut.

Manfaat Kepuasan Konsumen

Kepuasan konsumen ini sangat penting bagi penyedia jasa (Tjiptono, 2000),

karena:

1. Reaksi terhadap produsen berbiaya rendah

Fokus kepuasan pelanggan merupakan upaya mempertahankan pelanggan dalam rangka mengahadapi produsen yang menawarkan harga rendah. Dimana banyak juga perusahaan menemukan fakta bahwa pelanggan bersedia mengeluarkan biaya yang lebih mahal untuk mendapatkan pelayanan dan kualitas yang baik.

2. Daya persuasif word of mouth

3. Reduksi sensetifitas harga

4. Kepuasan pelanggan sebagi indicator ksuksesan bisnis di masa depan

Kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang, karena dibutuhkan waktu yang cukup lama sebelum dapat membantu reputasi atas pelayanan prima. Akan tetapi, hasilnya dituai dalam jangka panjang dan manfaat tersebut dapat bertahan lama.

5. Manfaat ekonomi mempertahankan pelanggan versus menarik pelanggan

baru.

Mempertahankan pelanggan dan memuaskan pelanggan saat ini jauh lebih murah dibandingkan terus-menerus berupaya menarik atau memprospek pelanggan baru.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah warung internet di Pasar Baru.

B.Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karekteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugioyono, 1999). Populasi yang diteliti penulis adalah semua konsumen yang pernah mengunjungi Warung Internet di Pasar Baru.

2.Sampel

Berbagai metode penentuan sampel merupakan cara-cara untuk meminimalisir

kekeliruan generalisasi dari sampel ke populasi. Dalam penelitian ini metode

pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai sangkut pautnya dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Ruslan, 2003).

C. Variabel Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul:

“Analisis Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Konsumen dan Niat

Kunjungan Ulang ke Warung Internet di Pasar Baru”

Dipakai beberapa variabel diantaranya:

a. Variabel Bebas (Independen)

: Kualitas Layanan

b. Variabel Terikat (Dependen)

: 1. Kepuasan Konsumen

2. Niat Kunjungan Ulang Kepuasan Konsumen

2 Pertanyaan

mengenaicust omer satisfaction(perasaan puas atau tidak puas.)

Likert

Niat Kunjungan Ulang

Perilaku yang muncul
sebagai respon terhadap objek, yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukanpembelian ulang

1 pertanyaan
mengenai keinginan konsumen untuk berkunjung kembali

Likert

D.Sumber Data

Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data

sekunder.

1. Data Primer

Data primer merupakan data asli atau data mentah yang langsung penulis peroleh selama melakukan penelitian di lapangan (field research) dalam hal ini, penelitian terhadap konsumen warung internet di Pasar Baru, Padang penelitian dan responden.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data yang telah diolah terlebih dahulu oleh pihak-pihak atau badan/ instansi terkait. Pengumpulan data ini di lakukan dengan library research, yaitu pengumpulan data yang di lakukan dengan jalan membaca buku-bukuliter atur e, makalah dan jurnal-jurnal, serta artikel- artikel yang berhubungan dengan masalah yang di bahas.

E. Pengukuran variabel

Jawaban setiap item instrumen menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono: 2004). Dengan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert lima point mempunyai nilai dari sangat negatif sampai sangat positif.

http://www.scribd.com/doc/22274720/Analisis-Pengaruh-Kualitas-Layanan-Terhadap-Kepuasan-Konsumen-Dan-Niat-Kunjungan-Ulang-Ke-Warung-Internet

NAMA            : KRISYUDHA KUSUMA

NPM               : 10208719

KELAS            : 3EA12

About these ads

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: